Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan Bagi Umah Hindu Bali

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan Bagi Umat Hindu Bali

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan Bagi Umat Hindu Bali Hari Raya Galungan & Kuningan merupakan salah satu hari raya suci bagi umat Hindu. Hari raya besar yang datang setiap 6 bulan sekali atau 210 hari dengan hitungan kalender Bali. Hari raya Galungan jatuh pada Budha Kliwon Wuku Dungulan, sedangkan hari raya Kuningan jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan. Pada hari suci ini, umat Hindu akan merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma dengan bersembahyang di Pura. Sebelumnya, masyarakat bali mendirikan penjor, membuat banten (sesajen), menyembelih babi yang dikenal dengan prosesi nampah yang akan dimasak pada hari suci.

Makna Hari Raya Galungan

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan Bagi Umah Hindu Bali
Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan Bagi Umah Hindu Bali | Image Source : Pinterest.com

Hari Raya Galungan jatuh pada Budha Kliwon Wuku Dungulan. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa pada hari raya Galungan, umat Hindu memperingati hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Pada intinya, Galungan merupakan hari untuk menyatukan kekuatan rohani agar dapat berfikir dan berpendirian terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah yang akan mewujudkan Dharma dalam diri. Sedangkan Adharma yang dimaksud adalah segala kekacauan dalam pikiran (byaparaning idep). Dari konsep lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan kemanangan Dharma melawan Adharma.

Upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau yang kerap dikenal sebagai Oton Gumi. Yang berarti, hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali mengaturkan Maha Suksmaning idepnya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas terciptanya dunia beserta isinya. Pada hari suci inilah umat Hindu bersyukur atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala hal di dunia ini.

Makna Hari Raya Kuningan

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan Bagi Umah Hindu Bali
Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan Bagi Umah Hindu Bali | Image Source : Pinterest.com

Hari Raya Kuningan tepatnya jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan atau yang kerap disebut tumpek kuningan. Hari raya Kuningan jatuh tepat pada 10 hari setelah hari raya Galungan. Pada hari ini, umat Hindu melakukan pemujaan kepada para Dewa serta Leluhur untuk memohon keselamatan , kedirgayusaan perlindungan serta tuntunan lahir batin. Pada hari suci ini diyakini para Dewa, Bhatara, dan Pitara turun ke bumi. Dengan ini, maka umat Hindu akan membuat Banten (sesajen) yang akan dihaturkan saat melakukan persembahyangan.

Pesembahyangan pada hari raya ini biasanya dilakukan setengah hari saja, atau persembahyangan dilakukan sebelum jam 12 siang (tengai tepet). Umat Hindu akan membuat tamiang dan daun endong yang biasanya dipasang pada setiap pelinggih dan pelangkiran. Tamiang merupakan symbol senjata Dewa Wisnu karena mempunyai Cakra, Kolem adalah senjata Dewa Mahadewa. Sedangkan daun endong merupakan symbol kantong perbekelan yang dipakai oleh para Dewa dan Leluhur saat berperang melawan Adharma. Serta tumpeng pada banten dibuat berwarna kuning pada hari raya Kuningan ini.

Sekian artikel tentang Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan Bagi Umat Hindu Bali. Semoga selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Jangan lupa untuk simak artikel menarik lainnya hanya di Lokerbali.info

Mungkin Kamu Juga Suka

Artikel terbaru

Kategori