Buda Cemeng Klawu

Rahina Buda Cemeng Klawu, Pemujaan Bhatara Rambut Sedana

Rahina Buda Cemeng Klawu, Pemujaan Bhatara Rambut Sedana – Buda Cemeng Klawu yang jatuh setiap hari Rabu pada wuku Klawu di penanggalan Bali, merupakan hari perayaan yang cukup dianggap penting oleh umat Hindu khususnya di Bali. Buda cemeng kelawu 2022 jatuh pada Rabu, 5 Oktober 2022. Pada hari ini, umat Hindu meluangkan waktu untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Dalam manifestasinya sebagai Dewi Laksmi (dikenal juga sebagai Sanghyang Sedana/Rambut Sedana) yang telah memberikan kekayaan atau rejeki maupun kemakmuran kepada manusia untuk bertahan hidup. Berbeda dengan Hari Raya Saraswati yang memuja Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan.

Dalam perkembangannya, hari perayaan ini lebih dikhususkan kepada bentuk atau perwujudan uang sebagai simbol dari kekayaan/ rejeki/ kemakmuran itu sendiri. Tak heran jika hari Buda Cemeng Klawu ini lebih banyak dirayakan oleh mereka yang membuka usaha perdagangan di Bali baik itu perusahaan maupun umkm seperti coffee shop.

Dalam lontar Sundarigama disebutkan, Buda Wage Kliwon yang disebut juga Buda Cemeng Kelawu adalah hari untuk memuliakan dan memuja Batari Rambut Sadana, “Dewi Kesejahteraan”. Beliau yang menganugerahkan harta kekayaan, (dana) kepada manusia. Kegiatan peringatan “Sri Sedana” yang lazim disebut “Rambut Sedana” merupakan hari raya atau odalan bagi uang maupun nafkah yang telah dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia.

Pantangan Untuk Bayar Utang atau Bertransaksi :

Sumber Gambar : www.akriko.com

Yang menarik, ada sebuah keyakinan di kalangan sebagian orang Bali mengenai pantangan untuk bertransaksi menggunakan uang dan sejenisnya. Di sejumlah daerah juga disebutkan saat Buda Cemeng Kelawu dipantangkan untuk membayar atau menagih utang-piutang atau pun memberikan atau menyedekahkan beras kepada orang lain.

Baca juga : Makna Hari Raya Pagerwesi

Bagi masyarakat modern, pantangan semacam ini tentu saja sulit untuk diterima. Dinamika perekonomian masyarakat yang begitu tinggi membuat tidak mungkin untuk menghentikan transaksi menggunakan uang dalam sehari. Menghentikan transaksi berarti juga menghentikan kegiatan ekonomi.

Filosofis Dari Perayaan Buda Cemeng Kelawu?

Sumber Gambar : www.tribunnews.com

Klawu artinya warna putih kebiruan atau abu. Jika dianalogikan, kata ”Klawu” bisa juga bermakna “Kel uwu” yang dalam bahasa Bali “uu atau uwu” berarti di “takar”. Jadi, “Kel uwu” dalam bahasa Indonesia berarti “akan ditakar”. Apa yang ditakar? Salah satunya adalah harta yang saat ini umunya diukur dengan nilai uang.

Ini juga menjadi alasan mengapa tempurung kelapa di Bali disebut “Kau”, mungkin karena benda itu biasa digunakan untuk mengukur atau menakar seperti mengukur beras, air, waktu (saat metajen), mengukur makanan, pikiran, tindakan dan seterusnya”.

Jadi di hari Buda Cemeng Klawu kita tidak hanya mensyukuri berapa jumlah harta atau uang yang kita miliki, dimana uang bisa menjadi simbul dan alat interakasi.

Di hari ini atas dasar wiweka, kita diingatkan dan wajib memahami hakekat uang agar tetap memberi kesejahteraan hidup. MENAKAR berapa jumlahnya, menakar peruntukannya, menakar sumber memperolehnya, menakar waktu penggunaannya, menakar pelakunya dan sebagainya.

Dengan demikian kita akan tahu berapa kurang dan berapa lebihnya berdasarkan kebutuhan. Satu lagi hal yang unik, dipercaya bahwa pada hari ini masyarakat Bali tidak diperbolehkan menggunakan uang untuk hal-hal yang sifatnya tidak kembali berupa wujud barang.

Berikut beberapa Pura di Bali yang mengadakan upacara piodalan pada hari Buda Cemeng Klawu ini :

  • Pura Penataran Agung, Karangasem
  • Pura Penataran Dalem Ped, Klungkung
  • Pura Basukihan (Besakih), Karangasem
  • Pura Pengubengan (Besakih), Karangasem

Demikian artikel Rahina Buda Cemeng Klawu, Pemujaan Bhatara Rambut Sedana. Semoga dapat memberikan informasi yang mendalam mengenai filosofi atau makna dari Hari Raya Buda Cemeng Klawu pemujaan Bhatara Rambut Sedana.

Bagikan :

Mungkin Kamu Juga Suka