Makna Hari Raya Tumpek Wayang Bagi Umat Hindu di Bali

Makna Hari Raya Tumpek Wayang Bagi Umat Hindu di Bali

Makna Hari Raya Tumpek Wayang Bagi Umat Hindu di Bali – Tumpek Wayang merupakan rangkaian hari suci umat Hindu. Datang setiap 6 bulan sekali (210 hari) sekali menurut kalender Bali yang jatuh pada Sabtu/ Saniscara Kliwon Wuku Wayang. Upacara ini erat kaitannya dengan cerita Rare Kumara yang ingin dimakan oleh Batara Kala, karena Rare Kumara lahir bertepatan dengan Wuku Wayang. Maka dari itu, seorang anak yang lahir pada Wuku Wayang harus Melukat dengan Tirta Wayang Sapuh Leger.

Makna Tumpek Wayang

Makna Hari Raya Tumpek Wayang Bagi Umat Hindu di Bali
Dalang Wayang Bali | Image Source : Shutterstock.com

Di hari suci Tumpek Wayang ini, umat Hindu akan melaksanakan upacara yang ditujukan kehadapan Tuhan sebagai manifestasinya Dewa Iswara (Dewa Cuaca) untuk memohon keselamatan dan kerahayuan umat.

Hari raya ini juga memiliki makna dengan hari kesenian, karena di hari ini dipercayai hari lahirnya berbagai jenis alat kesenian, seperti :

  • Gong
  • Gender
  • Wayang
  • Barong dan sebagainya.

Tumpek Wayang merupakan cerminan dimana dunia diliputi dengan berbagai hal-hal negatif. Dimana, manusia akan diliputi oleh kegelapan, kebodohan, keangkuhan, serta keangkamurkaan. Sehingga, Dewa Siwa akan mengutus Sanghyang Samirana untuk turun ke dunia untuk menjadi seorang mediator untuk memberikan kekuatan positif kepada manusia untuk menjalankan aktivitasnya. Mediator yang dimaksud disini ialah seorang yang kita kenal sebagai Dalang. Dalang merupakan seorang yang mempertunjukan pementasan wayang.

Dewa Iswara akan memberika kekuatan kepada seorang Dalang yang disebut dengan Taksu. Dengan kekuatan ini, seorang Dalang akan mampu mempertunjukan pementasan wayang. Pementasan wayang dengan cerita yang penuh dengan filsafat humor, kritik, saran dan realita yang terjadi pada kehidupan sehari-hari. Sehingga seorang yang menonton pertunjukan ini akan mensugesti dirinya dengan energi-energi yang positif. Dengan energi positif ini, diharapkan akan menyeimbangkan fisik dan mental spiritual dalam diri manusia.

Cerita menarik menurut kepercayaan orang Bali khususnya tentang anak-anak yang lahir bertepatan dengan hari Tumpek Wayang. Seperti yang sudah dibahas sedikit diatas, masyarakat Bali meyakini bahwa anak yang lahir pada hari Tumpek Wayang haruslah diupacarai. Upacara ini cukup besar, salah satunya dengan pementasan Wayang Sapuh Leger dan Banten (sesajen). Tujuan dari upacara ini agar anak-anak tersebut terhindar dari gangguan Sanghyang Kala.

Dalam Lontar Sapuh Leger disebutkan, bahwa Dewa Siwa memberikan izin kepada Dewa Kala untuk memakan anak-anak yang lahir pada Wuku Wayang. Demi keselamatan anak-anak tersebut, haruslah dilakukan upacara pemersihan dengan Tirta Wayang Sapuh Leger. Dimana, Sapuh berarti Membersihkan dan Leger berarti Tercemar atau Kotor.

Sarana/Banten Tumpek Wayang

Makna Hari Raya Tumpek Wayang Bagi Umat Hindu di Bali
Ilutrasi Banten/Sarana Upacara Umat Hindu | Image Source : Shutterstock.com

Saat hari suci Tumpek Wayang, umat hindu juga akan melakukan ritual keagamaan dengan sarana yang disebut Banten.  Ada beberapa sarana atau Banten Tumpek Wayang, diantaranya Banten Pejati, Biakaon, Tebasan, Peras, Pengambean, Dapetan dan lainnya. Setiap ritual yang dilaksanakan, ditutup dengan Segehan, riilnya Kala Tumpek Wayang memakai caru pandan wong/pandan berduri, segehan manca warna (lima warna).

Sehari menjelang Tumpek Wayang, Jumat/ Sukra Wuku Wayang umat Hindu Se-Bali melaksanakan ritual Meseselat. Meseselat (memasang seselat) berserana pandan berduri atau tumbuhan lainnya yang berduri dengan makna agar terlindungi oleh segala kekuatan jahat. Pada umumnya, seselat ditaruh di Sanggah dan setiap pelinggih yang ada dirumah (Penunggun karang, sumur, pelangkiran, dll).

Ritual meseselat diyakini warga Hindu Bali kegiatan itu bertujuan untuk menangkal segala hal yang bersifat buruk/jahat, seperti Desti dan Bhuta Kala. Karena diyakini pada Sukra Wuku Wayang (Kala Paksa) sangat rawan. Di hari Kala Paksa ini dipercaya digunakan oleh penganut ilmu hitam (Pengiwa) untuk membayar tailan (menyetor arwah seseorang sebagai tebusan untuk menigkatkan ilmu). Yang di Bali ilmu ini kerap disebut sebagai ilmu “Pengeleakan”.

Sekian Makna Hari Raya Tumpek Wayang Bagi Umat Hindu di Bali, semoga selalu dijauhkan dari hal yang bersifat negatif. Serta selalu berada dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan dapat membantu anda untuk memahami.

Jangan lupa untuk simak berbagai artikel menarik lainnya hanya di Loker Bali Blog. Untuk anda yang sedang mencari pekerjaan, yuk simak lowongan kerja terbaru di Loker Bali Info. Follow juga Instagram @lokerbali.info untuk mendapatkan informasi tentang lowongan kerja di Bali.

Mungkin Kamu Juga Suka